Yth. Menteri Kesehatan RI
c.q Biro Hukum Kementerian Kesehatan RI
Menindaklanjuti Peraturan Menteri Kesehatan No. 19 Tahun 2014 tentang
Penggunaan Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional Untuk Jasa
Pelayanan Kesehatan Dan Dukungan Biaya Operasional Pada Fasilitas
Kesehatan Tingkat Pertama Milik Pemerintah Daerah, bersama ini kami
sampaikan hal-hal sebagai berikut:
1. Tujuan Sistem pembayaran kapitasi adalah pembayaran di muka atau prospektif
dengan konsekuensi pelayanan kesehatan dilakukan secara pra upaya atau
sebelum peserta BPJS jatuh sakit. Sistem ini mendorong Faskes Tingkat
Pertama untuk bertindak secara efektif dan efisien serta mengutamakan
kegiatan promotif dan preventif. Akan tetapi pembagian jaspel sesuai
Permenkes No. 19 Tahun 2014 tersebut lebih mengutamakan/berorientasi
UKP daripada UKM. Karena sangat tidak memiliki daya ungkit terhadap
peningkatan KINERJA dan MOTIVASI KERJA pegawai. Sehingga pola dan
image yang muncul selama ini terhadap PNS yaitu KERJA-TIDAK KERJA yang
penting hadir terus tetap DAPAT GAJI. Hal ini juga berlaku terhadap
pembagian kapitasi ini, bahkan yang tidak kerjapun bisa mendapatkan
bagian yang lebih besar. Hal ini sangat bertolak belakang dengan
prinsip EFEKTIFITAS dan EFISIENSI.
2. Variabel yang dijadikan tolok ukur pembagian jasa pelayanan sesuai
dengan Permenkes No. 19 Tahun 2014 pasal 4 ayat 2 TIDAK BOLEH hanya
didasarkan pada pendidikan dan jam kehadiran pegawai, akan tetapi
harus pula mengacu pada masa kerja, beban kerja, prestasi kerja
(kinerja) dan jabatan.
Karena kalau hanya pada 2 variabel tersebut, maka hasilnya menjadi
BIAS. Contohnya: perawat (NERS) yang ada di puskesmas dengan masa
kerja dan beban kerja yang kurang (programer P2TB) serta tingkat
kualitas kehadiran hanya duduk-duduk saja tanpa bekerja akan
mendapatkan bagian yang lebih besar dibandingkan dengan perawat DIII
yang karena kompetensinya beban kerjanya lebih banyak (pegang 3-4
program). Oleh karena itu, hal ini sangat bertolakbelakang dengan
nilai KEADILAN dan PEMERATAAN.
3. Mengingat status jabatan KEPALA PUSKESMAS saat ini adalah jabatan
struktural, yang notabene lebih banyak dirangkap oleh tenaga medis dan
sebagian lagi dijabat oleh tenaga S1 Kesehatan maupun S2 Kesehatan,
maka dari itu dipandang perlu untuk Kepala Puskesmas yang pendidikan
terakhirnya S2 Kesehatan untuk disetarakan dengan profesi medis.
Mengingat S2 Kesehatan merupakan pendidikan MAGISTER yang saat ini
disetarakan dengan profesi dokter spesialis. Karena kalau yang diakui
hanya pendidikan S1nya, hal ini sangat bertolak belakang dengan nilai
KEADILAN dan pengakuan terhadap PERSAMAAN HAK & KEWAJIBAN .
4. Meskipun dalam Permenkes No. 19 Tahun 2014 tidak disebutkan secara
jelas dan tersurat tentang status pegawai yang mendapatkan pembagian,
akan tetapi Permenkes No. 19 Tahun 2014 tersebut harus disikapi secara
ARIF dan BIJAKSANA melalui Peraturan Bupati atau lainnya, bahwa hanya
pegawai PNS dan minimal mempunyai SK Bupati saja yang bisa mendapatkan
HAK atas pembagian jasa kapitasi tersebut, selebihnya (tenaga
magang/sukwan) diatur tersendiri oleh Kepala Puskesmas. Karena kalau
tidak diperjelas, hal ini sangat berdampak dan menjadi preseden buruk
yang sangat mempengaruhi MOTIVASI dan ETOS KERJA pegawai khususnya PNS
NON KESEHATAN yang sudah puluhan tahun bekerja di Puskesmas, karena
bisa-bisa tenaga magang (perawat) yang NERS mendapatkan bagian yang
lebih besar daripada tenaga PNS. Disamping itu, untuk alasan EFISIENSI
akan terjadi pengurangan tenaga magang secara besar-besaran di
puskesmas, yang mana akan mempunyai dampak SOSIAL yang sangat besar.
5. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka perlu dilakukan
hal-hal sebagai berikut:
a. Melakukan kajian yang lebih mendalam terhadap isi Permenkes No. 19
Tahun 2014 khususnya pasal 4 dengan lebih mengedepankan nilai-nilai
KEADILAN dan PEMERATAAN sesuai dengan HAK & TANGGUNGJAWAB pegawai.
b. Menyusun pola pembagian jaspel (REMUNERASI) yang tidak hanya
mengacu pada PENDIDIKAN & KEHADIRAN tapi juga MASA KERJA, JABATAN,
KINERJA (PRESTASI KERJA) sehingga besarannya lebih OBJEKTIF dan
TRANSPARAN.
c. Sesuai dengan TUGAS dan TANGGUNGJAWAB Kepala Puskesmas yang sangat
besar khususnya yang berasal dari tenaga Non Medis dengan pendidikan
terakhir S2 Kesehatan, dipandang perlu untuk S2 Kesehatan
diklasifikasi dalam tenaga Medis.
d. Agar tidak terjadi doble pendapatan, bagi tenaga medis yang
merangkap Kepala Puskesmas agar ada pembatasan dalam penentuan point.
Demikian, semoga bisa menjadi bahan masukan demi kesempurnaan bersama.
Sampang, 12 Mei 2014
Kepala UPTD Puskesmas Jrengik
Kabupaten Sampang
H. ABDUL CHOLIK, SKM, M.Kes
c.q Biro Hukum Kementerian Kesehatan RI
Menindaklanjuti Peraturan Menteri Kesehatan No. 19 Tahun 2014 tentang
Penggunaan Dana Kapitasi Jaminan Kesehatan Nasional Untuk Jasa
Pelayanan Kesehatan Dan Dukungan Biaya Operasional Pada Fasilitas
Kesehatan Tingkat Pertama Milik Pemerintah Daerah, bersama ini kami
sampaikan hal-hal sebagai berikut:
1. Tujuan Sistem pembayaran kapitasi adalah pembayaran di muka atau prospektif
dengan konsekuensi pelayanan kesehatan dilakukan secara pra upaya atau
sebelum peserta BPJS jatuh sakit. Sistem ini mendorong Faskes Tingkat
Pertama untuk bertindak secara efektif dan efisien serta mengutamakan
kegiatan promotif dan preventif. Akan tetapi pembagian jaspel sesuai
Permenkes No. 19 Tahun 2014 tersebut lebih mengutamakan/berorientasi
UKP daripada UKM. Karena sangat tidak memiliki daya ungkit terhadap
peningkatan KINERJA dan MOTIVASI KERJA pegawai. Sehingga pola dan
image yang muncul selama ini terhadap PNS yaitu KERJA-TIDAK KERJA yang
penting hadir terus tetap DAPAT GAJI. Hal ini juga berlaku terhadap
pembagian kapitasi ini, bahkan yang tidak kerjapun bisa mendapatkan
bagian yang lebih besar. Hal ini sangat bertolak belakang dengan
prinsip EFEKTIFITAS dan EFISIENSI.
2. Variabel yang dijadikan tolok ukur pembagian jasa pelayanan sesuai
dengan Permenkes No. 19 Tahun 2014 pasal 4 ayat 2 TIDAK BOLEH hanya
didasarkan pada pendidikan dan jam kehadiran pegawai, akan tetapi
harus pula mengacu pada masa kerja, beban kerja, prestasi kerja
(kinerja) dan jabatan.
Karena kalau hanya pada 2 variabel tersebut, maka hasilnya menjadi
BIAS. Contohnya: perawat (NERS) yang ada di puskesmas dengan masa
kerja dan beban kerja yang kurang (programer P2TB) serta tingkat
kualitas kehadiran hanya duduk-duduk saja tanpa bekerja akan
mendapatkan bagian yang lebih besar dibandingkan dengan perawat DIII
yang karena kompetensinya beban kerjanya lebih banyak (pegang 3-4
program). Oleh karena itu, hal ini sangat bertolakbelakang dengan
nilai KEADILAN dan PEMERATAAN.
3. Mengingat status jabatan KEPALA PUSKESMAS saat ini adalah jabatan
struktural, yang notabene lebih banyak dirangkap oleh tenaga medis dan
sebagian lagi dijabat oleh tenaga S1 Kesehatan maupun S2 Kesehatan,
maka dari itu dipandang perlu untuk Kepala Puskesmas yang pendidikan
terakhirnya S2 Kesehatan untuk disetarakan dengan profesi medis.
Mengingat S2 Kesehatan merupakan pendidikan MAGISTER yang saat ini
disetarakan dengan profesi dokter spesialis. Karena kalau yang diakui
hanya pendidikan S1nya, hal ini sangat bertolak belakang dengan nilai
KEADILAN dan pengakuan terhadap PERSAMAAN HAK & KEWAJIBAN .
4. Meskipun dalam Permenkes No. 19 Tahun 2014 tidak disebutkan secara
jelas dan tersurat tentang status pegawai yang mendapatkan pembagian,
akan tetapi Permenkes No. 19 Tahun 2014 tersebut harus disikapi secara
ARIF dan BIJAKSANA melalui Peraturan Bupati atau lainnya, bahwa hanya
pegawai PNS dan minimal mempunyai SK Bupati saja yang bisa mendapatkan
HAK atas pembagian jasa kapitasi tersebut, selebihnya (tenaga
magang/sukwan) diatur tersendiri oleh Kepala Puskesmas. Karena kalau
tidak diperjelas, hal ini sangat berdampak dan menjadi preseden buruk
yang sangat mempengaruhi MOTIVASI dan ETOS KERJA pegawai khususnya PNS
NON KESEHATAN yang sudah puluhan tahun bekerja di Puskesmas, karena
bisa-bisa tenaga magang (perawat) yang NERS mendapatkan bagian yang
lebih besar daripada tenaga PNS. Disamping itu, untuk alasan EFISIENSI
akan terjadi pengurangan tenaga magang secara besar-besaran di
puskesmas, yang mana akan mempunyai dampak SOSIAL yang sangat besar.
5. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka perlu dilakukan
hal-hal sebagai berikut:
a. Melakukan kajian yang lebih mendalam terhadap isi Permenkes No. 19
Tahun 2014 khususnya pasal 4 dengan lebih mengedepankan nilai-nilai
KEADILAN dan PEMERATAAN sesuai dengan HAK & TANGGUNGJAWAB pegawai.
b. Menyusun pola pembagian jaspel (REMUNERASI) yang tidak hanya
mengacu pada PENDIDIKAN & KEHADIRAN tapi juga MASA KERJA, JABATAN,
KINERJA (PRESTASI KERJA) sehingga besarannya lebih OBJEKTIF dan
TRANSPARAN.
c. Sesuai dengan TUGAS dan TANGGUNGJAWAB Kepala Puskesmas yang sangat
besar khususnya yang berasal dari tenaga Non Medis dengan pendidikan
terakhir S2 Kesehatan, dipandang perlu untuk S2 Kesehatan
diklasifikasi dalam tenaga Medis.
d. Agar tidak terjadi doble pendapatan, bagi tenaga medis yang
merangkap Kepala Puskesmas agar ada pembatasan dalam penentuan point.
Demikian, semoga bisa menjadi bahan masukan demi kesempurnaan bersama.
Sampang, 12 Mei 2014
Kepala UPTD Puskesmas Jrengik
Kabupaten Sampang
H. ABDUL CHOLIK, SKM, M.Kes
SE Mendagri no 900/2280/sj baru keluar tgl 5 Mei 2014
BalasHapusPERMENKES NO. 19 TAHUN 2014 berlaku mulai tgl 1 Mei 2014
Perpres 32 Tahun 2014 berlaku mulai tgl 21 April 2014
Padahal..........
dana kapitasi sudah ditrasfer dari BPJS ke kas Daerah masing2 sejak bulan Januari 2014
terus....
Pemanfaatan dana kapitasi yang sudah ditransfer ke kasDa sebelum peraturan2 itu muncul, itu menggunakan aturan yang mana ya????
semua pengelolaan keuangan di daerah, jika tidak ada peraturan khusus (minimal setingkat peraturan menteri) yang menaunginya maka harus dikembalikan pada mekanisme pengelolaan keuangan daerah di mana semua arus keuangan di daerah harus tercatat dalam kitab yang namanya APBD..permenkes 19 tahun 2014 saya pikir hanya memperjelas saja mekanisme pengelolaan tersebut..
Hapussebenarnya yang harus kita tunggu adalah bagaimana kapitasi bisa benar-benar dijadikan alat kontrol terhadap kinerja layanan primer sebagai "penjaga gawang" sistem rujukan.terima kasih
Perbupnya keluarnya kapan ya?
Hapussemoga beban kerja dimasukan dalam variabel pembagian jasa pelayanan sehingga akan terasa lebih adil.
Jadilah manusia mandiri yang selalu " positif thinking dan ikhlas ".....
BalasHapusYakin - sabar - Istiomah
"Berfikir utk semua" Positif thinking jg thd p. Abdul Cholik...
Hapusdi puskesmas saya juga kepala puskesmas SKM, dia ngotot minta jatah jasa pelayanan lebih tinggi dari dokternya, dengan alasan dia ikut membantu memanggil pasien masuk ke ruang periksa, aneh kan?
BalasHapusSangat aneh... Kok bs mnta lbh tinggi.. Aturanny sdh jelas.. Dan BPJS ini mmng fokus d pelayanan.. Profesi media Dan paramedislah yg paling "berhak".. Logika konstruksi permenkes sesuai
HapusAnaloginya kuli bangunan yg keliatan beban kerjanya lebih berat drpd seorg direktur yg kelihatannya cuma duduk2 saja di ruang yg nyaman gajinya ya lebih besar direktur, apa mau disamakan jg penghasilannya...? Dipikir atuh pak pak cholik..
BalasHapusJangan terlalu jauhlah analogi perbandingan kuli dan direktur.. Kuli dan pengawas cukup.. Apa pernah kuli dituntut karena hasil bangunannya jelek atw runtuh?? Paling2 pengawas dan direkturnya doang.. Yang dibayar mahal adalah tanggung jawabnya.. Sepanjang ingatanku sih paling sering kena tuntutan ya dokternya, sekali2 ya perawat atau bidannya.. Klo SKM belum pernah dengar sih, termasuk klo cma kapus paling2 lengser dri jabatannya doang, g masuk bui..
Hapushehehe kelihatannya pak kholik ini jeles sama anak buahnya yang ners ya! katanya hanya duduk-duduk saja kerjanya tapi dpt poin banyak. ingat pak resiko sebagai programer P2Tb.......... inilah mungkin yang mjd pertimbangan menkes penghargaan bagi orang2 yg berada garda depan dlm pelayanan kesehatan .tq
HapusPoin dokter cuma 150, beban kerja luar biasa.. Paramedis bervariasi maksimal cuma 100an.. Tp dalam 1 puskesmas dokternya 1, paramedis 80an.. Jasa mediknya?? Dokter 1jta, paramedis 500-900rbuan.. Adil gak?? Dokter bertanggungjawab sma smua pasien, dibayar 1 juta?? G sombong ya, duit segitu sih sehari juga dapet klo di praktek, lah ini kerja sebulan dengan pasien 1000an??? Wow!!!
BalasHapustp kalo dokter kedua msh ptt baru msk trs juga sering g msk kerja masukpun hanya duduk main hp. krn di balai pengobatan puskesmas yang melayani, memeriksa sekaligus mengobati pasienadalah perawat bgm dgn hal itu? adilkah? krn tanggung jawab semua termasuk pasien adalah kepala puskesmas yang kebetulan jg dokter yg merangkap sbg fungsional dokter
Hapusya klo kpala pkmnya dokter,,klo kaya di t4 saya yg masih spk,,gmana??jd beban tanggung jawabnya kan tetep ma dokter...intinya smua perlu rendah hati dlam menyikapi..tau diri,,jgn iri hati...tugas kapus hanya mengambil kebijakan,,dan mengawasi..bkan ngurusi pendaptan karyawanx..smua sdh ada aturanx..jalankan saja...klo memang dokternya malas ya, tinggal hitung khadirannya..jasanya jga pasti berkurang....sekolah dokter sangat mahal,,passing gradenya paling tinggi...apalagi skolah spesialis..mesti nabung lama..kcuali mang kaya genetik....
Hapus"Adil gak?? Dokter bertanggungjawab sma smua pasien, dibayar 1 juta?? G sombong ya, duit segitu sih sehari juga dapet klo di praktek, lah ini kerja sebulan dengan pasien 1000an??? Wow!!!" ini namanya sombong, kalau mau kerja sendiri tanpa ditemani oleh siapa2 silakan saja dengan tanggung jawabnya. Dan inilah ruginya di Indonesia, suatu saat saya berharap, dokter itu cuma bisa milih kerja, apakah kerja di swasta atau di pemerintahan saja, supaya pernyataan2 seperti di atas tidak terjadi lagi hanya karena pembagian yang dirasa tidak adil, aminnn...
HapusJalan keluar buat dokternya ya masuk ngantor ke puskesmas cukup 3 hari saja dalam seminggu.. Supaya paramedis juga ngerasain beratnya ngurus pasien.. Atau demo aja kali yee.. Buruh saja dapat lebih dari itu kok..
BalasHapusYg paling arif dan bijak mekanisme tsb dikembalikan ke daerah masing2 mengingatketersediaan SDM dan pola kerja yg berbera beda. KMK 19 tahun tahun 2014 bisa saja dilaksanakan FKTP dimana tupoksi sdh dilaksanakan sesuai dg kompetensinya dg ttp jg melaksanakan peraturan lainnya, standar pelayanan, kompetensi profesi masing2, pp 53 ttg kepegawaian, dll. Smntr kalo pekerjaannya sj banyak dikerjakan profesi lain, masih layakkah kita hrs menerima jasa hsl kerja orang lain?
BalasHapusitu tergantung daerahnya...klo daaerahnya masih rakus dan super korup gmana,,tergantung jga dari kapusnya,,klo masih rakus dan korup gmana....tergantung dari pengelola jknnya,, klo maasih korup dan rakus gmana.......klo dokter,perawat,bidan,dan tenaga lainnya mau ikut campur,,nti kena santet,,gmana coba?????
Hapussetuju dengan Abrag...lanjutkan...
HapusBenar...saya staf dokter di salah satu Puskesmas di Bali,setelah mensimulasikan pembagian jasa berdasar permenkes ini,terlihat ada ketidakadilan yg akan bisa menimbulkan penurunan kinerja dan kecemburuan,krn kinerja petugas di masing2 unit dlm melayani pasien tdk terlihat,krn belum tentu pegawai yg rajin masuk kerja,memiliki kinerja baik dlm melayani pasien...Banyak yg rajin masuk,tp malas bekerja...Dan saya terkejut saat melihat bahwa ada tenaga kontrak yg baru bekerja 6 bulan,tetapi memiliki pendidikan ners (poin 100) mendapatkan jasa yg jauh melampaui yg lain...atau kasus lain,ada pegawai dg pendidikan Ners jg,tp sangat jarang ikut bekerja di unit pelayanan,krn didibukkan oleh program kes masyarakat yg dipegangnya,mendapat jasa yg jauh melampaui mereka yg rajin bekerja melayani pasien di unit pelayanan,padahal uang yg dibagi merupakan uang jssa pelayanan...Padahal dlm peraturan menteri tahun sebelumnya,yg kami jadikan rujukan dlm pembagian jasa,faktor kinerja di unit pelayanan mjd penentu utama,dlm artian jumlah pasien yg dilayani oleh seorang pegawai dlm kurun waktu pembagian mjd variabel index teratas dlm menentukan jada,shg akan memacu kinerja,krn pegawai yg semakin rajin bekerja dan lebih banyak melayani pasien,akan mendapat jasa lebih tinggi...apakah ketentuan permenkes ini harus/wajib dijalankan atau boleh dimodifikasi sesuai situasi setempat?....mhn masukan teman-teman....
BalasHapusmenurut saya,,yg mesti dievaluasi adalah jumalh poin kehadiran,,,tugas luar mesti ada jumlah maksimalnya..jgn krn tugas luar jd seenaknya...masa ada tugas luar ampe 2-3 mg,,tp dpt jasanya full 1 bln..trus masalah kinerja mesti diserahkan ma dokternya..krn dokter yg tau perawat n bidan mana yg kerja,,mana yg malas,,jd saat pembagian bsa lebih adil...ini mgkn hanya berlaku di pkm,,tdk d rs...jd perlu modifikasi sedikit...
HapusSetahu saya dokter umum di PNS masuk mjd gol. IIIb yg mana setara dengan S2. Menurut saya sgt berlebihan bl Bpk menuntut disetarakan dg dokter spesialis. Jelas beda lah Pak, kuliah(biaya & masa pendidikan) dan tanggung jawab dokter sangat berbeda dg Sarjana kesehatan. Dan setelah lulus ketika memeriksa pasien ia harus bertanggung jawab atas pengobatan yg diberikannya. Seperti tanggapan sblm2nya, yg dituntut selalu dokter bukan tenaga yg lainnya.
BalasHapusBapak yg sngat hebat. Mungkin konstruksi berpikir anda ad yg kurang pas.. JKN BPJS INI program UKP alias pelayaann medis. Si pelayan adlh profesi medis n paramedis.. Oleh krnny permenkes sprti ITU.. Kapusk S2 TDK ad skoring khusus.. Tetapi dberi "penghrgaan" tmbhan skor jabatan.. Sdh cukup ITU.. Klo mau sejajar dokter yaa silahkan melayani pasien ato kuliah dl MINIMAL 6THN.. jgn lupa biayany...
BalasHapushahaha setuju sekali kalo pgn skor yang sama dgn tenaga medis dan paramedis silakan bpk melayani pasien gampang kan
Hapussepakat...ngomong2,,sekolahnya dmana ya,,kok punya pandangan seperti itu....hehehe...ato mgkn punya masalah keuangan dlm kluarga ato pengen cepet2 naik haji,,jd iri sama poin dokter dan ners....8)
HapusBpk2, mkn kalian smua adlh seorang dokter, tp inget tanpa petugas loket apa kalian bs bekerja tanpa bantuan mereka, apa kalian mau menjaga loket yg tidak kalah ruwet dgn melayani pasien.
HapusBagai mana dengan nasib perawat atau bidan yang statusnya magang? Apakah mendapat jasa pelayanan BPJS?
BalasHapustidak dapat,,kecuali dapat SK bupati
Hapuskejam
HapusKalau untuk rumah sakit saya kira Permenkes ini tidak masalah,tp kalau di puskesmas harus dikaji ulang.Saya melihat ada arogansi profesi disini.Puskesmas juga melaksanakan program2 promotif dan prefentif,tidak hanya kuratif saja.Berarti ada tenaga paramedis yg merangkap jabatan.Selain bertugas di Poli/R Inap/UGD jg merangkap sebagai pelaksana program.Harusnya mereka ini mendapat poin plus.Didaerah terpencil sangat banyak petugas yg rangkap jabatan dan program karena sedikitnya tenaga.Rata2 Paramedis di Puskesmas itu kebanyakan tenaganya D3...tetapi masih banyak juga yg setara SPK,SMF,SMAK,SPAG mereka ini termasuk senior dan termasuk pejuang2 puskesmas yg tangguh.Jaman dahulu byk puskes nggak ada dokter,Tetap jalan tuh PUSKESMAS.Ditempat kami dokternya sering kabur berminggu minggu,tetap jalan tuh puskesmas.Justru pasien lebih banyak berobat ke Mantri drpd ke dokter.Para dokter ini cuma bermain dikewenangan saja.inilah namanya AROGANSI PROFESI.MENTANG-MENTANG Saya sangat setuju Permenkes diatas dikoreksi.Kalau nggak serahkan saja seluruh uang kapitasi BPJS kepada tuh DOKTER dan suruh dia melayani sendiri.
BalasHapusbener2.....di puskesmas tempat saya yang melayani pasien di balai pengobatan perawat dokternya ptt sering kabur dan kalo msk kerja hanya main hp saja dapat poin nya banyak krn gak ada variabel penilaian dari sisi jenis kepegawaian dan beban kerja
HapusKeliatana klo perawat ngiri dengan dokter
HapusKan udah sewajarnya perawat itu menjadi bawahan dokter jadi wajar klo perawat itu beban kerjanya lebih berat dari dokter.tapi tanggungjawab terbesar masih ditangan dokter.secara keilmuan,ilmu tentang kesehatan yg dimiliki perawat itu juga jauh dibawah dokter.
makanya untuk pak kholik dan orang-orang yg ngiri ke dokter ya sekolah aja di kedokteran biar ngrasain sulit dan beratnya untuk menjadi dokter dan biar ngrasain brapa banyak biaya yg harus dikluarkan untuk menjadi dokter.
Ingat pak kholik..S2 itu hanya setara dengan DOKTER UMUM...Jangan minta disamaian dg Dokter Spesialis...jauh pak...
dimaklumi saja....namanya iri hati...klo dokternya berhalangan ya ditung aja khadirannya..jasanya jga pasti berkurang...krn pembaginya jumalh poin keseluruhan..gitu aja kok freport...klo poin 150 itu merupakan penghargaan dan penghormatan terhadap profesi dokter..syukuri aja terhadap profesi masing2...mgkn dah disitu jalan hidup dan rejekinya...
HapusS2-nya mana pak ?
BalasHapusS2 abal-abal paling.... saya berani jamin... kuliahnya santai sambil main2....makan2 doang....kluar duit banyak pasti...
HapusMohon info, profesi apa saja yang termasuk tenaga kesehatan yang dimaksud dalam permenkes-no-19-tahun-2014?
BalasHapusjanganlah Gara" Dana Kapitasi trus menjelek Jelekkan Profesi yang lain.
BalasHapusKami Di Papua sebagian besar 1 Puskesmas 1 Dokter, trus apa mampu dia kerjakan semua !!!! Sesuai Tupoksinya !!!!
Cuma krn Dana Kapitasi aja trus mau jelekkin Profesi yang lain !!!
Kan dah ada Induk dari semua Profesi, biarkan mereka yg merubah apa yg menjadi keluhan bersama.
tugas dokter hanya periksa pasien dan mendiagnosa,memberi pengobatan sesuai kemampuan...slebihnya diserahkan k yg lain...syukuri aja yg ada...blajar memahami diri sendiri..lakukan sesuaI tupoksinya
Hapussebaiknya jasa kapitasinya dibagi dulu mjd 3 point besar pertama pimp.pusk & bendahara jkn kedua pemberi pelayanan lsg terdiri dr dokter,perawat,bidan,apotik,laboratorium ,tu dan loket kartu yg ketiga utk seluruh karyawan/wati yg ada di pusk. tentu dgn jlh % yg disesuaikan dgn beban kerja krn ini jasa pelayanan tentu yg melayani pasien dong yg lebih besar.....jgn melulu dilihat pendidikan doang...
BalasHapusHmmm...bpjs,tau singkatanx g bpk ibu skalian? Badan pemalak jiwa n jasa smua rakyat indonesia..ayolah mlihat lbh dalam lg,prsoalan upah petugas keshtn hy aspek kciil dr smuax,n lihatlah faktax akhirx antar petugas kesehatan perang sodara,bela profesi,dll.semestix itu tdk akan terkadi jika bpjs tdk diberlakukan,jk sektor kesehatan bner2 dperhatikn oleh penguasa,bpjs adl upaya lepas tangan pemeribtah u mngurusi rakyatx,jaminan kesehatan yg hrsx dberikn scr cuma2 & berkualitas tdk dlakukan,tenaga kesehatan tdk mndapat hak yg layak & manusiawi,mengatasnamakn jaminan nsinal pafahal sunber dana jaminanx dr rakyat,itu adl kamuflase 1,yg k2 bhw pemerintah ktx pro rakyat tp tryy pro asing,buktix adl bhw indonesia mlaksanakn amanah dr world trade organization(WTO) agr sektor kesehatan djadikn komoditas dagang(liberalisasi kesehatan),ksepakatn itu dbuat th 1997.cermatilah pasal per pasal dr uu bpjs,dana yg trkumpul bisa dkelola u investasi,kl g daftar bs dkenai sanksi,shg pas skali singkatanx p u pemalak..sadarlah smua sodaraku rakyat indonesia termasuk ptugas kesehatan,jng hy pkirkn jasa qt yg mmg g akan pernah layak u hidup saat ini,tp pkirkan jg bgm nasib smua rakyat indonesia dg pemalakan ini.pemerintah beralasan dana apbn qt limit,shg brbagai mcm subsidi mulai dcabut,trmasuk sektor kesehatan,mmg bner limit,lalu knp bs limit?tryt sumber dana apbn 82% dr pajak rakyat,sisax slh1x dr utang luar negeri,lah trs kemana sumber daya alam qt yg brlimpah itu,tryt dksi k asing,qt py 14 blok migas,1 blok bs mnghslkn 400 trilyun,harusx berlebih u mengurusi rakyat,masalahx y krn dksi k asing,qt cm dpt cipratanx j,blm lg kekayaan yg lain,kl seandaix pemerintah sayang sm rakyatx,yakin qt g akan sengsara sprt skrg,biaya skolah g akan mahal bahkan gratis,gaji pekerja akan setinggi tinggix,kesehatan gratis & brkualitas..nasehat bwt sjawatq dr smua bidang: jgn berpecah hy gara2 berebut remahan sisa exploitasi kekayaan indonesia ol asing,jadilah pemikir yg bs brfikir jernih u mnyelesaikn problem rakyat dg tuntas,jgn bersikap individualistis,bs mjd agent of change,kl qt mmg bner2 sayang sm indonesia n sodara2 qt smua rakyat indonesia..nasehat buat penguasa negeri ini: takutlah akn adzab Alloh yg pasti akn anda dapatkan nti d akherat jk anda berbuat zolim thp rakyat,jk anda masih py hati manusia,mk pakailah hati & pikiran sehay anda u mngurus rakyat dengan amanah & kasih sayang,kami rakyat pasti berpihak pd anda jk anda berani melepaskn dri dr jebakan asing yg selama ini membelenggu negeri qt..takutlah pd Tuhan yg telah menciptakan anda.
BalasHapussetuju
Hapusbapak ini ngomongnya banyak tapi ga tau bilang apa....
HapusYth. Saudara-saudaraku.
BalasHapusHidup mati, jodoh dan rezeki sudah diatur ama Yang Disana. Tapi demi kebersamaan dan kenyamanan bekerja, saya ada usul “Koreksi Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 19 tahun 2014 Bab III Pasal 4”
(2) Pembagian jasa pelayanan kesehatan kepada tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan sebagaimana dimaksud ayat (1) ditetapkan dengan mempertimbangkan variabel:
a. jenis ketenagaan dan/atau jabatan; dan (sesuai yang sudah berlaku)
b. kehadiran (sesuai yang sudah berlaku), ditambah variable:
c. Golongan Ruang ( dari gol Ia sd IV e point: 1 sd 17 sesuai golongan ruang kepegawaian)
d. Pendidikan (dari SD sd S3 point: 1 sd 10 sesuai jenjang pendidikan yang
dimiliki)
e. Masa Kerja ( dari 1 th sd 40 th sesuai masa kerjanya dengan asumsi usia
18 tahun pertama kali bekerja sampai BOP 58 tahun)
f. Beban Kerja ( dikategorikan Ringan, Sedang, Berat dan Sgt Berat point:
5,15,20,25 sesuai kategori beban kerja yang dijalani)
g. Resiko Kerja (dikategorikan Ringan, Sedang, Berat dan Sgt Berat point:
5,15,20,25 sesuai kategori resiko kerja yang dialami)
Setelah kondisi pegawai dimasukkan menurut posisi dari a sd g, total jumlahnya. Baru point yang dihasilkan ditotal semua pegawai dan hasilnya sebagai pembagi masing-masing pegawai untuk memperoleh hak yang harus diterima. Penghitungan masing-masing tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan dihitung dengan menggunakan formula sesuai pasal 4 ayat 7 Kepmekes ini.
Semoga Bermanfaat. Amiin.
Sukardi, SST.
bagaimana pak tenaga kerja sukarela,,adakah peraturannya dlm pasal 4 ayat 7 Kepmekes ada pembagian nya???????apakah menyusuaikn jenjang pendidikannya???(pns tu pun klu ada didlm pasal 4 ayat 7
Hapusantara teori yg diketahui menkes dan kondisi riil di lapangan banyak perbedaannya, sebaiknya pembagiannya diserahkan ke instansi masing2 agar diatur sendiri sesuai kondisi lapangan masing2
BalasHapusTapi sebagai negara yang punya aturan main gak boleh dong soal "pembagiannya diserahkan ke instansi masing2 agar diatur sendiri sesuai kondisi lapangan masing2" ??!. Hargai para pejabat yang telah memikirkan nasib rakyat Indonesia.. Seharusnya kalau bikin kebijaksanaan jangan dadakan n demi kepentingan tertentu.. Kaji dulu latar belakang masalah, efek negatif n positif/kemungkinan yang terjadi dari kebijakan tersebut. Jangan di-peksake-lah kata orang jawa.... Yahhh Weslah SAIKI KITO KERJA WAE, DINIATI NGIBADAH, BUKANKAH TIAP BULAN KITA SUDAH DAPAT GAJI, KALAU ADA TAMBAHAN REZEKI YO MATUR NUWUN LAN IKU SING KITO SUWUN TUR MANEH NYUWUN REZEKI SING HALAL TUR BAROKAH, MANFANGATI URIP DUNYA TEKAN AKHIRAT.. YO TO KANG LAN MBAK YU ??? SALAM KERJA.
BalasHapusnasib rukwan sk dinas, sk bu bupati dn yg magag gimanayah, kalau ada pembagiannya gmana
BalasHapuspodo ngomong wae kau... mending kembali ke askes aja....
BalasHapuspakai BPJS sama aja ngeringin kantong PNS yang pengen naikin kelas ruangan.... masa pindah kelas 1 hari aja biaya tambahan menjadi 1.700.000... coba kalau naik kelas 1 minggu, tinggal kaliin aja 1.7 jt x 7 hari = kangker bro... mending kembali aja ke aturan ASKES sebelum jadi BPJS
BalasHapusdibagi az sesuai tupoksi masing2 beresw
BalasHapusgitu az repot
Mencuplik pendapat sohib tgl 12 September 2014 10.34 "SAIKI KITO KERJA WAE, ................................. ??? SALAM KERJA. " KOK SAMA DENGAN KABINET -NYA PRESIDEN KITA "KABINET KERJA", BERARTI BETUL SEKARANG ADALAH ERA/ZAMANNYA "KITA HARUS KERJA, KERJA N KERJA. CUCOK BOY???????? REZEKI DAH ADA YANG NGATUR GITU KOK PEROT.. EEHHH REPOT..
BalasHapus1. revisi permenkes no 19 th 2014
BalasHapus2. bagi sesuai tupoksi
3. kembalikan ke perda masing2 dg dasar permenkes tsb
Dulu ga ada bpjs ga rame kaya gini, lebih baik tidak usah ada bpjs, sbg tenaga kesehatan ya mari kita kerjakan tugas kita dg amanah, mau kaya ya jd pengusaha, kalau mau mensejahterakan pns lbh baik ga usah pake poin kapitasi bpjs, mending kasih aja tunjangan kinerja atau remunerasi sesuai dg beban kerjanya
BalasHapusasslmkm
BalasHapussaya bekerja sbg dokter d salah satu FKTP di SULSEL. saya rasa sebagai unit pelayanan. dalam proses pelayanannya ini kita bekerja sebagai team work. tdk perlu menjelekkan profesi yang lain. saya setuju revisi trhadap permenkes no.19 2014. krn walaupun berpendidikan tinggi tidak semua tenaga kesehatan memanfaatkan ilmunya yg tinggi itu trhadap pelayanan kesehatan. mestinya jasa di bagi sesuai tupoksinya. sehingga hak jasa yang didapat ssuai gn kewajiban yang telah dilakukan. kalaupun tdk bisa d rubah. ikhlaskan saja. toh profesi kesehatan profesi kemanusiaan. uang tdk dibawa mati kok. semua akan ada pertanggung jawabannya d akhirat kelak.
Setelah pmk 28;terbit adakah yg ingat variabel daerah tetap mengacu pada pmk 19 pasal 3 ayat4 butir c dan kinerja sdm pada kmk 857/2009 dan sudah sesuaikah sotk pd pmk75 / 2014 dg uraian jabatan fungsional di pmk 73 / 2013
BalasHapusyang palimg seneng adalah karyawan BPJS,dia asuransinya bukan BPJS karena dia tau BPJS yang dia kelola buruk tapi gajinya gede2....karyawan kesehatan jadi sapi perah...
BalasHapus